Tiga Pilar Budaya Cianjur

Tiga Pilar Budaya Cianjur

Cianjur merupakan salah satu kota penghasil beras terbaik di Indonesia, beras yang terkenal sampai ke luar negri yaitu beras pandan wangi Cianjur, karena hasil dari berasnya, kota Cianjur dikenal sampai dunia Internasional, tidak hanya berasnya yang membuat nama Cianjur dikenal, akan tetapi ada salah satu ciri khas dari Cianjur yang membuat kota ini terkenal, yaitu Tiga Pilar Budaya ( Ngaos, Mamaos, dan Maenpo ). Tiga Pilar Budaya Cianjur ini memiliki pilosofi yang sangat bagus, tidak hanya sebuah nama akan tetapi banyak makna yang terkandung didalamnya .

Tiga Pilar Budaya Cianjur

- Ngaos

Ngaos Merupakan tradisi mengaji yang  mewarnai suasana dan nuansa masyarkat Cianjur yang dilekati dengan ke beragamaan. Citra sebagi daerah agamis ini konon sudah terintis sejak tahun 1677 dimana tatar Cianjur ini dibangun oleh para Ulama dan santri jaman dulu.

- Mamaos 

Mamaos adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup.  Seni mamaos tembang sunda Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti. Ia menjadi pupuhu (pemimpin) tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862.

-Maenpo

Tiga pilar budaya cianjur
sumber gambar :www.tvberita.co.id

Merupakan seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan. Maenpo ini diciptakan sebagai suatu seni beladiri, dan keindahan. Didalam maenpo terdapat sebuah ilmu yang disebut Liliwatan ( gerakan menghindar ), jika kita resapi lebih dalam makna dari liliwatan ini adalah menghindarkan diri kita dari segala perbuatan yang tidak baik / maksiat, atau yang akan mencelakakan. Dan ada juga ilmu yang disebut Peupeuhan ( pukulan ) makna dari peupeuhan ini adalah kekuatan dalam menghadapi semua cobaan, dan selalu berbuat demi kebaikan. Pencipta dan penyebar Maenpo ini adalah  R. Djadjaperbata atau dikenal dengan nama R.H.Ibrahim, aliran ini  mempunyai ciri permainan rasa dan sensitivitas atau kepekaan terhadap gerakan lawan ketika sedang bersentuhan.

Jika kita meresapi ketiga Pilar Budaya Tersebut, Hakekatnya adalah sebuah simbol dari rasa keberagamaan, kebudayaan, dan kerja keras. Dengan keagamaan ( Ngaos ) ini hal yang di inginkan ialah terciptanya masyarakat yang beriman dan bertakwa serta mempunyai akhlakulkarimah. Kemudian dengan kebudayaan ( Mamaos ) ini masyarakat Cianjur mampu mempertahankan keberadaanya sebagai masyarakat yang berbudaya, memiliki adab, memiliki tatakrama, serta sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat. Kemudian dengan Kerja keras ( Maenpo ) semua masyarakat Cianjur selalu menunjukan semangat yang tinggi untuk meningkatkan mutu kehidupan dan kesejahteraan.

Tiga Pilar Budaya ini satu sama lainnya saling berkaitan atau saling berhubungan, demi menciptakan cianjur yang lebih makmur, maju dan agamis.

Dengan Tiga Pilar Budaya ini kota Cianjur terutama "Ngaos " kota Cianjur dijuluki kota santri atau gudang santri, karena ternya di cianjur ini banyak berdiri pesantren- pesantren yang tentunya menghasilkan santri/i yang berkualitas, tidak hanya itu Cianjur mempunyai semboyan yaitu " Gebang Marhamah " Gerakan Pembangunan Masyarakat Berakhlakulkarimah. Tentunya Gebang Marhamah ini bukan hanya sebatas semboyan akan tetapi mejadi jati diri masyarakat Cianjur.

tags :

 

Share This Post :

Previous
Next Post »